Minggu, 02 Juni 2013

Kalau Jodoh Takkan Kemana

         Kisah ini berawal dari sebuah ketidaksengajaanku dengan seseorang yang baru kukenal dia lewat seulas senyumku. Saat itu aku sedang dalam perjalanan menuju kota Lampung untuk berlibur di tempat sahabat lamaku sewaktu SMA. Awalnya aku hanya duduk sendirian, sekedar untuk membuang penatku aku mulai mengedarkan pandanganku ke sekelilingku. tepat saat aku memandang ke arah kursi di sebrangku, aku melihatnya. entah apa yang membuatku tergerak untuk mengukir senyum di bibirku untuknya. seandainya saja dia bukanlah tipe perempuan yang ramah, mungkin aku akan tampak bodoh dengan senyumanku terhadap orang ynag sama sekali belum pernah aku kenal dan aku lihat. Tapi ternyata dia orang yang ramah, dia membalas senyumanku. dan lewat isyarat bibirnya dia menyapaku ;'hai'. akupun refleks membalas sapaannya.

tiba-tiba dia berdiri, aku kira dia akan pergi setelah melihat tingkah anehku yang senyum-senyum dengannya. tapi ternyata dia berjalan ke arah kursi di sampingku, dan menanyakan apakah ada orang lain di sebelahku. aku bilang tidak ada, aku memang memesan dua kursi untukku sendiri, tapi hal itu tidak beritahukan kepadanya.

obrolan antara kami berduapun mulai mengalir, dia menanyakan aku mau peri kemana, dan siapa namaku, apakah aku sudah bekerja atau masih kuliah dan beberapa pertanyaan lainnya sebagai pembuka perkenalan kami. akupun betanya hal yang sama dengannya. setelah sekian menit berlalu. dan tampaknya bahan untuk ditanyakan atau diobrolkan antara aku dan dia sudah habis, kami berdua sama-sama terdiam. hingga tiba-tiba dia berceita tentang sesuatu yang akupun juga tak terlalu mengerti.

dia meceritakan tentang orang yang dicintainya.
gubraakkk...
aku mulai takut, dia menanyakan pendapatku tentang hal itu, kenapa aku takut. karena aku juga tak pernah mengerti tentang hal tersebut. aku memutuskan untuk tidak mengenal dulu hal-hal yang begitu.

ceritanya mengalir.
dia bercerita sambil memandang ke jendela luar. memandang kegelapn malam pejalanan ini.

"aku pernah dicintai seseorang," dia mulai bercerita. sebenarnya akupun bingung, apakah wajah ini sebegitu ramahnya sehingga dia mampu bercerita tentang hal itu dengan begitu santainya selayaknya kami berdua ini adalah sahabat lama yang begitu dekat.

"dia berulang kali menytakan perasaanya padaku. tapi selalu tak pernah aku tanggapi. Aku selalu berdalih, aku ingin fokus dengan semua yang ada dulu, tak ingin membagi pikiranku untuk hal semacam itu." dia terdiam sejenak.

"orang yang mencintaiku itu selalu berkata dia akan menungguku, saat aku menolaknya secera halus. Hal itupun tak terlalu aku gubris. aku hanya mengagapnya sebatas teman. yah hanya sebatas teman,awalnya. Kenapa aku bilang awalnya, karena pada akhirnya aku justru berbalik arah dengan prinsip yang aku pegang."

"hingga pada suatu hari, aku harus pergi. aku mau melanjutkan studiku di singapur. terakhir aku bertemu dengannya adalah di hari perpisahan sekolah. Awalnya aku berniat memberi tahunya tentang kepergianku kepadanya. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, aku mengurungkan niatku untuk memberi tahunya. hingga di detik-detik terakhir hari perpisahan itu, saat foto bersama dengan seluruh teman SMA, aku tak berani menatap matanya. sebenarnya aku sadar, dia mulai gelisah dengan sikapku yang tak biasanya. Dia mencoba mendekatiku tapi aku terus menghindarinya."

setelah sekian lama aku mendengar ceritanya, akhirnya aku melontarkan pertanyaanku.
"kenapa? bukankah semestinya hubunganmu dengannya baik-baik saja?"

"iya, hubungan kami memang baik-baik saja. Tapi kondisi hatiku yang tidak baik-baik saja."
"selama ini aku telah membohongi diriku sendiri, mengatakan bahwa aku bisa menghindari semuanya dan mengatakan hatiku baik-baik saja dan tidak perlu mengenal kata cinta., tapi ternyata semuanya hanyala dunia maya yang aku ciptakan sendiri agar aku tampak mampu memegang prinsipku untuk tak membagi pikiranku dengan yang lain. Justru pada akhirnya bukan dia yang aku bohongi, tapi diriku sendirilah yang aku bohongi."

aku mulai mampu masuk ke dalam ceritanya, "kamu jatuh cinta?"

dia tersenyum ke arahku. tapi kembali dia memandang ke luar jendela.
"ya, aku jatuh cinta padanya."

"lalu?" aku bertanya padanya

"lalu aku menjadi seorang yang pembohong. aku tak mau mengakui, bahwa aku telah jatuh cinta padanya. aku terus mencoba meyakinkan diri, bahwa aku tidak jatuh cinta padanya. hingga aku lelah sendiri dengan perasaan ini."

"tapi, dia tidak tau tentang perasaanmu sesungguhnya?" ke kemabali bertanya.

"entahlah, aku tidak tau. yang aku tau untuk sekian kalinya aku menolak cintanya dan untuk sekian kalinya dia selalu mengatakan dia kan menungguku."

"sebenarnya aku tidak tau secara pasti kapan aku mulai merasakan cinta terhadapnya. yang aku sadari adalah ada rasa yang berbeda saat aku mulai memikirkanya, dan frekuensi aku memikirnya mulai lebih dari biasanya. sekuat tenaga aku terus menata ulang hatiku. aku tak ingin dia tahu abhwa kau mencintainya."

"kenapa? bukankh dia sangat mencintaimu?"

"entahlah. akupun tidak terlalu tau apa alasannya hingga aku tak ingin dia tahu."

"akhirnya hari perpisahan itu berakhir, tanpa ada kata sepatahpun antara kami berudua."

"besoknya aku langsung pergi ke singapur, tana aku tah ternyata dia datang ke rumahku beberapa menit setelah aku pergi ke bandara. tapi dia tidak mengijinkan orang rumah untuk memberi tahukan kedatanganya kepadaku."

"empat tahun telah  berlalu, setelah perpisahan itu. aku mulai mampu kembali menata hatiku. kesibukan sebagai mahasiswa baru dan adaptasi hidup mandiri di negri orang membuatku mampu melupakan dia serta tugas-tugas kuliah yang begitu banyak dan kegiatan organisasiku menyita banyak waktuku, tapi sebenarnya aku tak pernah meelupaknnya dan masih terasa rasa cinta itu, getaran hatiku saat mengingat dirinya"

aku tidak bertanya, aku begitu hanyut dalam ceritanya.

"hingga pada suatu hari, saat aku membuka email lamaku yang telah sangat lama tidak aku buka. di sana terdapat 50 pesan yang belum terbaca olehku. bahkan jumlahnyapun masih aku ingat."

"kau pasti tau, pesan dari siap itu."
"dia" aku jawab
"ya, dia telah memngirimiku pesan sebanyak itu, tanpa aku tau. lalu aku mulai membacanya satu persatu. dan terasa begitu sesak di dadaku, saat membaca pesannya untukku. dia begitu merindukanku. dia bingung dengan sikapku yang tiba-tiba berubah. dia marah pada dirinya sendiri, karena terlalu mencintaiku, sehingga aku menjauhi dirinya. dia begitu menyalahkan dirinya. di pesannya, dia mengatakan, dia tidak berharap aku membalas cintannya, dia hanya berharap aku jangan menjauhinya ataupun membencinya, karena katanya rasanya saat di jauhi oleh orang yang dicintainya itu lebih menyakitkan dari apapun."

"emailnya terhenti saat di tahun ke tiga, selama satu tahun penuh itu dia tidak mengirimiku email, dan terakhir di tahun keempat ini, email terakhirnya untukku, di emaulnya dia mengatakan cintanya untukku takkan berubah. tapi dia di antara dua pilihan. dia harus bertunangan dengan orang yang telah di pilihkan orangtuanya untuk dirinya atau tetap menungguku. keputusannya ada padaku."
aku bingung,"lho?"

"ya, aku juga sama sepertimu, bingung dengan maksudnya. hingga saat aku membaca pesan di bagian akhir suratnya, dia mengatakn jika memang aku menginginkannya menungguku, datanglah ke hari ulang tahunnya  yang ke 23 dengan mengenakan baju bewarna merah dan jika aku menginginkanya dia melupakanku dan menerima tunangan itu, dia memintaku mengenakan baju berwarna hijau.

"aku benar-benar bingung dibuatnya, di satu sisi aku memang mencintainya, tapi disisi lainnya aku tak ingin dia membantah keinginan orangtuanya."
"lalu?" tanyaku begitu antusiasnya.

"lalu, aku datang ke acara ulangtahunnya. Semalaman aku memikirnya, baju warna apa yang aku pilih. apakah aku harus mengakhiri semua kebohonganku atau jujur kepada diriku sendiri. aku tak tau, dan aku benar-benar sangat bingung."

dia terdiam, mengatur nafasnya yang terdengar sesak di telingaku, pasti berat  baginya.

"mungkin benar kata orang, aku terlalu keras kepala dengan keputusan yang aku buat, hingga, aku tak hanya menyakiti diriku sendiri, tetapi aku juga telah menyakitinya. "
dia melihat kearahku dan tersenyum, seolah tau apa yanga akan aku pikirkan.
"ya, aku gunakan baju berwarna hijau di hari ulang tahunnya. dia melihatku datang,  aku melihat begitu besar gambaran kekecewaan yang tergambar di wajahnya, seandainya dia wanita, mungkin dia menangis.tapi dia menahannya.  selama pesta itu berlangsung, matanya tak lepas menatapku, aku benar-benar merasa bersalah dengannya dan sangat merasa bersalah. tapi ini kulakukan agar semuanya baik-baik saja, walaupun harus ada yang terluka pada akhirnya."

aku benar-benar terkesima dengannya, begitu kuatnya dia menahan perasaan yang ada di hatinya hingga menyakiti dirinya sendiri agar orangtua orang yang dia cintai tidak kecewa dengan anaknya.

"satu minggu setelah acara ulangtahunnya, dia resmi bertunangan dengan orang pilihan kedua orangtuanya. aku tak sanggup menghadirinya. luka di hatiku sebenarnya sangat perih. untuk itu selama satu tahun aku memilih pergi menjauh lagi dari tempat yang membuatku selalu ingat tentangnya."

"jadi sekarang?"

"ya, hari ini satu tahun aku pergi meninggalkannya, selama satu tahun ini aku tak pernah mendengar kabar tentangnya sedikitpun, aku berada di daerah perbatasan sebagai pengajar muda di sana. orang tuakupun sulit aku hubungi."

tak terasa kami sebentar lagi sampai di stasiun terakhir dan berarti aku telah sampai di kota bandar lampung. ceritanya membuatku begitu terhanyut. seperti ikut merasakan perihnya cinta yang dia alami.

"tak terasa ya, kita sudah hampir sampai," ujarnya kepadaku.
"iya, "
"makasih ya sudah mau menjadi pendengar yang setia dengan ceritaku,"
"sama-sama, aku juga senang kok mendengarnya. kau begitu hebat ya, mampu menahan semua perasaanmu walaupun harus sakit dengan semua keadaan yang menghimpitmu."

"aku tak sehebat itu kok, aku hanya sukses menjadi pembohong terbesar. dirikupun aku bohongi. tapi tak apalah, aku tak menyesalinya. mungkin inilah suratan kisah yang harus aku jalani. aku hanya berpegang kata-kata teman-temanku yang sering dipanggil "ukhti-ukhti", katanya kalo aku dan dia jodoh, gunung dan jurang dan apapun takkan mampu menghalangi kami berdua untuk menyatu, tapi kalo kami tidak jodoh, rambut di belah tujuhpun bisa menjadi penghalang kami berdua."

"yup, benar sekali, barat pepatah, kalo jodoh takkan kemana, ya nggak?"
hahaha
kami tertawa riang. kami berdua benar-benar mirip seperti sepasang sahabat yang sangat akrab.

perpisahan antara kami beduapun tak dapat kami elakkan lagi. stasiun ini menjadi saksi perpisahan kami. kami berpelukan begitu erat sebelum pergi ke tujuan kami masing-masing. walaupun kami hanya bersama beberapa jam, tapi terasa kami sangat begitu dekat, hingga tanpa terasa airmata kami menetes dengan perpisahan ini.
kamipun bertukran kartu nama sbelum benar-benar berpisah.

dia perempun yang telah mengisi kisah perjalananku. kisah yang sungguh tidak terduga. saat kami sama-sama menghilang di balik keramaian stasiun, tapi aku merasa, suatu saat aku pasti akan kembali bertemu dengannya.


dan ternyata feeling yang aku rasakan benar, dua bulan berlalu sejak pertemuan itu. aku menerima undangan pernikahan darinya. aku berfikir, dia telah menemukan orang yang akan menghapus lukanya yang lalu. tapi baru kusadari ada sesuatu yang tertulis sesudah nama mempelai laki-lakinya

(DIA)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar