Oleh : Reny
Ini tentang antara aku dan kamu.
Tentang pertemuan kita, kebersamaan kita sampai perpisahan
kita.
Aku ingin sedikit bercerita kepada dunia tentang kamu. Maybe. Mungkin juga akan sangat panjang
lebar. Haha. Kalau kata dosenku dulu, aku tuh
semestinya masuk jurusan Sastra Fisika, karena hobinya aku dalam bercerita
dan menulis. Sayangnya jurusan itu tidak ada, jadinya aku harus Nyasar kependidikan Fisika ini. Hehe.
Pertemuan kita, yaitu antara aku dan kamu bukanlah
kehendaakku, atau kehendakmu, Tapi kehendak-Nya. Kita ditakdirkan untuk
bertemu, saling melengkapi dan mengisi catatan tentang kita selama bersama
walaupun pada akhirnya kita harus berpisah.
Aku tahu dengan pasti, tidak semua hari-hari yang aku lalui
bersamamu adalah hari-hari yang manis, bukanlah semua hari-hariku menjadi
hari-hari yang menyenangkan saat kita bersama. Jujur saja, aku kadang menangis
dengan sikapmu yang kadang begitu acuh, egois dan keras. Terkadang juga kamu
marah tanpa sebab kepadaku atau terkadang marahmu benar-benar sangat menyakitiku.
Sebenarnya bisa jadi kamu juga pernah begitu sakit hati dengan sikapku, mungkin
saja kamu juga pernah begitu kecewa denganku, hanya saja kamu terlalu keras
untuk menitikkan air matamu di hadapanku. Mungkin di belakangku kamu lebih dan
lebih banyak lagi menitikkan air matamu karenaku.
Tapi setelah perpisahan kita, aku berani mengatakan dengan
sangat lantang kepada dunia, bahwa semua hari dan semua hal tentang kamu dan
aku adalah hal yang terindah yang pernah aku miliki.
TERINDAH.
Ya. Aku yakin itu dengan pasti.
Tidak salah kalau pepatah orang yang mengatakan, bahwa kita
baru akan merasa sangat kehilangan saat semuanya sudah tidak ada lagi dan sudah
tidak kita miliki lagi.
Akupun baru menyadari bahwa senyumanmu adalah senyuman yang
paling tulus, menenangkan dan yang termanis yang pernah aku lihat dan aku
miliki.
Dan aku telah kehilangan itu semua.
Aku tidak pernah menyesali perpisahan kita. Karena
perpisahan ini telah begitu banyak mengajarkanku tentang kehidupan dan arti keikhlasan
yang sesungguhnya. Sama seperti saat kita bersama dulu. Banyak hal yang telah
kamu perbuat untuk menjadikan aku tegar dan kuat terhadap semua permasalahan
hidup. Walau terkadang tetap saja air mata ini jatuh dengan sendirinya saat
kusebut namamu. Bahkan saat aku menulis ini, air mata ini tetap tidak bisa
berkompromi. Kalau orang lain melihatnya, semoga saja mereka beranggapan aku
sedang kelilipan, tapi itu berlaku untuk orang yang berumur 1- 3 tahun alias semua orang tahu bahwa aku sedang
menangis.
Satu hal yang sangat aku sayangkan adalah aku belum sempat
mengatakan,
aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.
Bahkan mungkin memang aku baru menyadarinya setelah kita
berpisah.
Setelah kamu pergi.
Aku baru menyadari betapa besarnya ketulusan cintamu, aku
baru menyadari keikhlasanmu memilikiku dan besarnya rasa sayangmu terhadapku.
Semuanya baru kusadari sepenuhnya.
18 Januari adalah angka yang begitu bearti untukku. Sama
halnya angka 8 bagimu. 8 Desember adalah pertemuan pertama kita. Dan 18 Januari
adalah tanggal perpisahan kita. Semua terkait dengan angka 8, entah kebetulan
atau memang sudah begitu, yang pasti aku menyukai angka 8. Angka yang penuh
lika-liku namun tak terputus antara titik awal dan titik akhirnya. Sama seperti
lagu dangdut :
“Hidup penuh
liku-liku, ada suka ada duka, semua insan pasti pernah merasakanyaaaaa....”
Tapi jangan suruh aku nyanyi ya, karena percayalah, aku
orangnya suka bernyayi tapi lupa dengan nada. Bahkan sering juga lupa lirik.
(keseringan). Haha.
Untuk kamu yang disana,
Aku rindu.
Sekian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar