Senin, 03 Juni 2013

Muhasabah Cinta

By: Edcoustiq


Wahai... Pemilik nyawaku
Betapa lemah diriku ini
Berat ujian dariMu
Kupasrahkan semua padaMu

Tuhan... Baru ku sadar
Indah nikmat sehat itu
Tak pandai aku bersyukur
Kini kuharapkan cintaMu

Reff. :
Kata-kata cinta terucap indah
Mengalun berzikir di kidung doaku
Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku
Butir-butir cinta air mataku
Teringat semua yang Kau beri untukku
Ampuni khilaf dan salah selama ini
Ya ilahi....
Muhasabah cintaku...

Tuhan... Kuatkan aku
Lindungiku dari putus asa
Jika ku harus mati
Pertemukan aku denganMu

Back to Reff.

Rapuh

by Joeniar Arif



Kau tak tahu betapa rapuhnya aku
Bagai lapisan tipis air yang beku
Sentuhan lembut kan hancurkan aku

Walaupun cinta tak sempurna
Menghampiriku seketika
Ingin kau tahu betapa rapuhnya aku

* kau tak tahu betapa rapuhnya aku
Masih terasa luka di masa lalu
Ku pernah mencintai sepenuh hati

** dan ku terluka, luka membekas
Bekas membuat, buat selamanya
Selamanya ku, ku kan selalu
Ku kan selalu rapuh

Ku ingin tunjukkan kepada dunia
Tak hanya ada karena masa lalu
Tapi masih ada harapan bagi yang baru

Kau tawarkan ku sejuta harapan
Namun kenangan itu tak pernah hilang
Ku ingin kau tahu betapa rapuhnya aku

Repeat *, **

Kau datang bagai hujan
Basahi tanah hati
Tapi kau lihat sendiri
Luka ini

Repeat **

Ku kan selalu rapuh




Minggu, 02 Juni 2013

Kalau Jodoh Takkan Kemana

         Kisah ini berawal dari sebuah ketidaksengajaanku dengan seseorang yang baru kukenal dia lewat seulas senyumku. Saat itu aku sedang dalam perjalanan menuju kota Lampung untuk berlibur di tempat sahabat lamaku sewaktu SMA. Awalnya aku hanya duduk sendirian, sekedar untuk membuang penatku aku mulai mengedarkan pandanganku ke sekelilingku. tepat saat aku memandang ke arah kursi di sebrangku, aku melihatnya. entah apa yang membuatku tergerak untuk mengukir senyum di bibirku untuknya. seandainya saja dia bukanlah tipe perempuan yang ramah, mungkin aku akan tampak bodoh dengan senyumanku terhadap orang ynag sama sekali belum pernah aku kenal dan aku lihat. Tapi ternyata dia orang yang ramah, dia membalas senyumanku. dan lewat isyarat bibirnya dia menyapaku ;'hai'. akupun refleks membalas sapaannya.

tiba-tiba dia berdiri, aku kira dia akan pergi setelah melihat tingkah anehku yang senyum-senyum dengannya. tapi ternyata dia berjalan ke arah kursi di sampingku, dan menanyakan apakah ada orang lain di sebelahku. aku bilang tidak ada, aku memang memesan dua kursi untukku sendiri, tapi hal itu tidak beritahukan kepadanya.

obrolan antara kami berduapun mulai mengalir, dia menanyakan aku mau peri kemana, dan siapa namaku, apakah aku sudah bekerja atau masih kuliah dan beberapa pertanyaan lainnya sebagai pembuka perkenalan kami. akupun betanya hal yang sama dengannya. setelah sekian menit berlalu. dan tampaknya bahan untuk ditanyakan atau diobrolkan antara aku dan dia sudah habis, kami berdua sama-sama terdiam. hingga tiba-tiba dia berceita tentang sesuatu yang akupun juga tak terlalu mengerti.

dia meceritakan tentang orang yang dicintainya.
gubraakkk...
aku mulai takut, dia menanyakan pendapatku tentang hal itu, kenapa aku takut. karena aku juga tak pernah mengerti tentang hal tersebut. aku memutuskan untuk tidak mengenal dulu hal-hal yang begitu.

ceritanya mengalir.
dia bercerita sambil memandang ke jendela luar. memandang kegelapn malam pejalanan ini.

"aku pernah dicintai seseorang," dia mulai bercerita. sebenarnya akupun bingung, apakah wajah ini sebegitu ramahnya sehingga dia mampu bercerita tentang hal itu dengan begitu santainya selayaknya kami berdua ini adalah sahabat lama yang begitu dekat.

"dia berulang kali menytakan perasaanya padaku. tapi selalu tak pernah aku tanggapi. Aku selalu berdalih, aku ingin fokus dengan semua yang ada dulu, tak ingin membagi pikiranku untuk hal semacam itu." dia terdiam sejenak.

"orang yang mencintaiku itu selalu berkata dia akan menungguku, saat aku menolaknya secera halus. Hal itupun tak terlalu aku gubris. aku hanya mengagapnya sebatas teman. yah hanya sebatas teman,awalnya. Kenapa aku bilang awalnya, karena pada akhirnya aku justru berbalik arah dengan prinsip yang aku pegang."

"hingga pada suatu hari, aku harus pergi. aku mau melanjutkan studiku di singapur. terakhir aku bertemu dengannya adalah di hari perpisahan sekolah. Awalnya aku berniat memberi tahunya tentang kepergianku kepadanya. Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, aku mengurungkan niatku untuk memberi tahunya. hingga di detik-detik terakhir hari perpisahan itu, saat foto bersama dengan seluruh teman SMA, aku tak berani menatap matanya. sebenarnya aku sadar, dia mulai gelisah dengan sikapku yang tak biasanya. Dia mencoba mendekatiku tapi aku terus menghindarinya."

setelah sekian lama aku mendengar ceritanya, akhirnya aku melontarkan pertanyaanku.
"kenapa? bukankah semestinya hubunganmu dengannya baik-baik saja?"

"iya, hubungan kami memang baik-baik saja. Tapi kondisi hatiku yang tidak baik-baik saja."
"selama ini aku telah membohongi diriku sendiri, mengatakan bahwa aku bisa menghindari semuanya dan mengatakan hatiku baik-baik saja dan tidak perlu mengenal kata cinta., tapi ternyata semuanya hanyala dunia maya yang aku ciptakan sendiri agar aku tampak mampu memegang prinsipku untuk tak membagi pikiranku dengan yang lain. Justru pada akhirnya bukan dia yang aku bohongi, tapi diriku sendirilah yang aku bohongi."

aku mulai mampu masuk ke dalam ceritanya, "kamu jatuh cinta?"

dia tersenyum ke arahku. tapi kembali dia memandang ke luar jendela.
"ya, aku jatuh cinta padanya."

"lalu?" aku bertanya padanya

"lalu aku menjadi seorang yang pembohong. aku tak mau mengakui, bahwa aku telah jatuh cinta padanya. aku terus mencoba meyakinkan diri, bahwa aku tidak jatuh cinta padanya. hingga aku lelah sendiri dengan perasaan ini."

"tapi, dia tidak tau tentang perasaanmu sesungguhnya?" ke kemabali bertanya.

"entahlah, aku tidak tau. yang aku tau untuk sekian kalinya aku menolak cintanya dan untuk sekian kalinya dia selalu mengatakan dia kan menungguku."

"sebenarnya aku tidak tau secara pasti kapan aku mulai merasakan cinta terhadapnya. yang aku sadari adalah ada rasa yang berbeda saat aku mulai memikirkanya, dan frekuensi aku memikirnya mulai lebih dari biasanya. sekuat tenaga aku terus menata ulang hatiku. aku tak ingin dia tahu abhwa kau mencintainya."

"kenapa? bukankh dia sangat mencintaimu?"

"entahlah. akupun tidak terlalu tau apa alasannya hingga aku tak ingin dia tahu."

"akhirnya hari perpisahan itu berakhir, tanpa ada kata sepatahpun antara kami berudua."

"besoknya aku langsung pergi ke singapur, tana aku tah ternyata dia datang ke rumahku beberapa menit setelah aku pergi ke bandara. tapi dia tidak mengijinkan orang rumah untuk memberi tahukan kedatanganya kepadaku."

"empat tahun telah  berlalu, setelah perpisahan itu. aku mulai mampu kembali menata hatiku. kesibukan sebagai mahasiswa baru dan adaptasi hidup mandiri di negri orang membuatku mampu melupakan dia serta tugas-tugas kuliah yang begitu banyak dan kegiatan organisasiku menyita banyak waktuku, tapi sebenarnya aku tak pernah meelupaknnya dan masih terasa rasa cinta itu, getaran hatiku saat mengingat dirinya"

aku tidak bertanya, aku begitu hanyut dalam ceritanya.

"hingga pada suatu hari, saat aku membuka email lamaku yang telah sangat lama tidak aku buka. di sana terdapat 50 pesan yang belum terbaca olehku. bahkan jumlahnyapun masih aku ingat."

"kau pasti tau, pesan dari siap itu."
"dia" aku jawab
"ya, dia telah memngirimiku pesan sebanyak itu, tanpa aku tau. lalu aku mulai membacanya satu persatu. dan terasa begitu sesak di dadaku, saat membaca pesannya untukku. dia begitu merindukanku. dia bingung dengan sikapku yang tiba-tiba berubah. dia marah pada dirinya sendiri, karena terlalu mencintaiku, sehingga aku menjauhi dirinya. dia begitu menyalahkan dirinya. di pesannya, dia mengatakan, dia tidak berharap aku membalas cintannya, dia hanya berharap aku jangan menjauhinya ataupun membencinya, karena katanya rasanya saat di jauhi oleh orang yang dicintainya itu lebih menyakitkan dari apapun."

"emailnya terhenti saat di tahun ke tiga, selama satu tahun penuh itu dia tidak mengirimiku email, dan terakhir di tahun keempat ini, email terakhirnya untukku, di emaulnya dia mengatakan cintanya untukku takkan berubah. tapi dia di antara dua pilihan. dia harus bertunangan dengan orang yang telah di pilihkan orangtuanya untuk dirinya atau tetap menungguku. keputusannya ada padaku."
aku bingung,"lho?"

"ya, aku juga sama sepertimu, bingung dengan maksudnya. hingga saat aku membaca pesan di bagian akhir suratnya, dia mengatakn jika memang aku menginginkannya menungguku, datanglah ke hari ulang tahunnya  yang ke 23 dengan mengenakan baju bewarna merah dan jika aku menginginkanya dia melupakanku dan menerima tunangan itu, dia memintaku mengenakan baju berwarna hijau.

"aku benar-benar bingung dibuatnya, di satu sisi aku memang mencintainya, tapi disisi lainnya aku tak ingin dia membantah keinginan orangtuanya."
"lalu?" tanyaku begitu antusiasnya.

"lalu, aku datang ke acara ulangtahunnya. Semalaman aku memikirnya, baju warna apa yang aku pilih. apakah aku harus mengakhiri semua kebohonganku atau jujur kepada diriku sendiri. aku tak tau, dan aku benar-benar sangat bingung."

dia terdiam, mengatur nafasnya yang terdengar sesak di telingaku, pasti berat  baginya.

"mungkin benar kata orang, aku terlalu keras kepala dengan keputusan yang aku buat, hingga, aku tak hanya menyakiti diriku sendiri, tetapi aku juga telah menyakitinya. "
dia melihat kearahku dan tersenyum, seolah tau apa yanga akan aku pikirkan.
"ya, aku gunakan baju berwarna hijau di hari ulang tahunnya. dia melihatku datang,  aku melihat begitu besar gambaran kekecewaan yang tergambar di wajahnya, seandainya dia wanita, mungkin dia menangis.tapi dia menahannya.  selama pesta itu berlangsung, matanya tak lepas menatapku, aku benar-benar merasa bersalah dengannya dan sangat merasa bersalah. tapi ini kulakukan agar semuanya baik-baik saja, walaupun harus ada yang terluka pada akhirnya."

aku benar-benar terkesima dengannya, begitu kuatnya dia menahan perasaan yang ada di hatinya hingga menyakiti dirinya sendiri agar orangtua orang yang dia cintai tidak kecewa dengan anaknya.

"satu minggu setelah acara ulangtahunnya, dia resmi bertunangan dengan orang pilihan kedua orangtuanya. aku tak sanggup menghadirinya. luka di hatiku sebenarnya sangat perih. untuk itu selama satu tahun aku memilih pergi menjauh lagi dari tempat yang membuatku selalu ingat tentangnya."

"jadi sekarang?"

"ya, hari ini satu tahun aku pergi meninggalkannya, selama satu tahun ini aku tak pernah mendengar kabar tentangnya sedikitpun, aku berada di daerah perbatasan sebagai pengajar muda di sana. orang tuakupun sulit aku hubungi."

tak terasa kami sebentar lagi sampai di stasiun terakhir dan berarti aku telah sampai di kota bandar lampung. ceritanya membuatku begitu terhanyut. seperti ikut merasakan perihnya cinta yang dia alami.

"tak terasa ya, kita sudah hampir sampai," ujarnya kepadaku.
"iya, "
"makasih ya sudah mau menjadi pendengar yang setia dengan ceritaku,"
"sama-sama, aku juga senang kok mendengarnya. kau begitu hebat ya, mampu menahan semua perasaanmu walaupun harus sakit dengan semua keadaan yang menghimpitmu."

"aku tak sehebat itu kok, aku hanya sukses menjadi pembohong terbesar. dirikupun aku bohongi. tapi tak apalah, aku tak menyesalinya. mungkin inilah suratan kisah yang harus aku jalani. aku hanya berpegang kata-kata teman-temanku yang sering dipanggil "ukhti-ukhti", katanya kalo aku dan dia jodoh, gunung dan jurang dan apapun takkan mampu menghalangi kami berdua untuk menyatu, tapi kalo kami tidak jodoh, rambut di belah tujuhpun bisa menjadi penghalang kami berdua."

"yup, benar sekali, barat pepatah, kalo jodoh takkan kemana, ya nggak?"
hahaha
kami tertawa riang. kami berdua benar-benar mirip seperti sepasang sahabat yang sangat akrab.

perpisahan antara kami beduapun tak dapat kami elakkan lagi. stasiun ini menjadi saksi perpisahan kami. kami berpelukan begitu erat sebelum pergi ke tujuan kami masing-masing. walaupun kami hanya bersama beberapa jam, tapi terasa kami sangat begitu dekat, hingga tanpa terasa airmata kami menetes dengan perpisahan ini.
kamipun bertukran kartu nama sbelum benar-benar berpisah.

dia perempun yang telah mengisi kisah perjalananku. kisah yang sungguh tidak terduga. saat kami sama-sama menghilang di balik keramaian stasiun, tapi aku merasa, suatu saat aku pasti akan kembali bertemu dengannya.


dan ternyata feeling yang aku rasakan benar, dua bulan berlalu sejak pertemuan itu. aku menerima undangan pernikahan darinya. aku berfikir, dia telah menemukan orang yang akan menghapus lukanya yang lalu. tapi baru kusadari ada sesuatu yang tertulis sesudah nama mempelai laki-lakinya

(DIA)




Kamis, 30 Mei 2013

Tak Pandai Bersyukur





Siang itu aku sedang berada di dalam bis Indralaya yang akan membawaku ke kota Palembang. Seperti bis yang lainnya, kalau belum penuh atau minimal ada sepuluh penumpang, biasanya bis ini takkan berangkat samapi kuota yang diinginkan si supir maupun kernetnya tercapai.

sebenarnya siang itu aku tak terlalu berantusias untuk pergi, karena begitu teriknya matahari bersinar jadi rasanya matahri itu ada di depan mukaku, tapi karena sesuatu yag "urgen" jadi kupaksakan saja kaki ini melangkah, hingga terdampar di dalam bis yang masih "ngetem". 

tak sengaja sambil menunggu bis itu memenuhi kuotanya mereka, aku melihat-lihat keluar kaca bis, sekedar untuk membuang penat siang yang panas itu.

di luar, tepat di samping bis yang sedang aku tumpangi ini, ada seorang bapak-bapak yang aku tebak umurnya sekitar 40an atau mungkin lebih. atau boleh jadi kurang. karena yang aku tahu, terkadang karena beitu kerasnya hidup ini, dapat membuat wajah makhluk hidup di dunia ini tampak jauh lebih tua dibandingkan dengan umurnya.

Bapak itu tampak kumal, dengan bekas karung beras yang tak auh lebih kumal lagi darinya, yang dia letakkan di pundak sebelah kirinya, sedangkan tangan sebelah kanannya memegang semacam besi panjang yang ujungnya dibuat melengkun agar dapat digunakan untuk mengambil barang-barang bekas sejenis cangkir-cangkir plastik, botol dan barang bekas lainnya.

kulitanya hitam legam, terbakar panasnya matahari yang tiada kira ini. aku melihatnya menjadikan aku semakin tahu betapa kerasnya hidup ini.

saat aku dapat begitu santainya duduk di bis ini, untuk berpergian walaupun sedikit merasakan uap panas dari matahari, tapi setidaknya aku sekarang sedang menggunakan pakaian yang bersih, rapi dan wangi. tidak ada sobekan sana-sini yang membuatku malu.

tapi, pakaian yang bapak itu gunakan. warnanya sudah mendekati kata uzur, telah bercampu denga warna tanah serta debu-deebu kota ini..

aku yang sedang duduk manis di bis ini, sambil minum susu dengan santainya, sedangkan beliau sedang mengais sejumput rezeki untuk sekedar menemukan sebuah cangkir plastik yang sekiranya sangat tidak sebanding dengan harga susu yang aku minum ini.

aku yanga aakn dengan mudahnya mengeluarkan uang sekitar Rp 7000,- untuk membayar ongkosku pergi ke palembang, tapi di luar sana bapak itu harus menelan semua debu kota ini dan panasnya kota ini. untuk sekedar mendapatkan uang seribu atau dua ribu dari hasil ia menjual barang bekasnya.

Sungguh, terkadang aku terlalu sangat sering tidak pandai bersyukur dengan semua yang telah allah berikan kepadaku.
sedangkan di luar sana masih begitu banyak orang yang harus menderita demi mendapatka sebutir nasi untuk hari ini.



Episode untuk kita

Mata yang sembab, menangisi kehidupan yang begitu berat.
jadikanlah sepotong kisah dalam hidupmu.
jangan sesali apa yang telah terjadi.
semuanya pasti ada hikmah yang tersirat.

berikanlah waktu kemarin sebagai waktunya air matamu mengalir seperti sungai.

tapi berikanlah waktu masa depanmu untuk melangkah menjemput cerahnya matahari besok yang pasti akan bersinar untukmu.


dunia ini takkan selamanya gelap.

allah telah mengajari kita lewat rotasi bumi.
ada bagian yang akan gelap
ada bagian yang akan terang.
mungkin saaat ini, kita sedang berada di posisi malam
tapi yakinlah, akan ada saatnya datang cerahnya pagi dan terangnya siang

dunia ini memang penuh makna, tapi bagi mereka yang mau berpikir.

allah telh banyak menyampaikn pesannya lewat semua yang Dia ciptakan untu kita
tapi sekai lagi, yang sadar hanyalah mereka yang mau berpikir.

persiapkanlah esokmu yang cerah

agar kau tak perlu lagi menangis menyesali yang ada.
masa lalu bukanlah untuk dipermasalahkan ataupun ditangisi, akan etapi masa lalu adalah pelajaran berharga buat kita.
gapai masa depanmu, dan nikmatilah setiap episode yang allah buatkan untuk kita.

Rabu, 29 Mei 2013

dia

Saat dia pergi, mungkin air mata ini rasanya takkan pernah kering untuk mengiringinya sepanjang jalan hidup ini.
dan ternyata hingga kinipun memang air mata ini mengalir untuk setiap do'a yang kulantunkan untuknya.

walaupun goresan cerita hidupku di bagian ini tak pernah terbayangkan olehku, dan andaipun aku membayangkannya, aku selalu berteriak, aku takkan sanggup.

tapi hingga kini aku mampu tersenyum dan bilang aku baik-baik saja.

allah memang akan menguji hambanya sesuai dengan kesanggupannya.

allah maha adil, itu sangat benar dan tidak perlu dipertanyakan lagi
hanya keadilan manusialah yang sangat dipertanyakan dan patut untuk dipertanyakan

jadi bagi kalian yang merasa dunia ini terasa tidak adil buat kalian, itulah yang membuat dunia kalian sempit. karena kalian sendirilah yang membuat dunia ini tidak adil buat kalian. kalian telah membuat sempit dunia ini yang semestinya sangat begitu luas, karena allah telah membuatnya dan menciptakannya menjadi sangat luas. tapi hal ini hanya akan disadari oleh mereka yang mau berpikir.


berpikirlah bahwa kau makhlik beruntung yang pernah ada di dunia ini, tapi ingat batasannya jangan sampai membawamu pada kesombongan yang sangat dibenci oleh allah, bawalah dunia ini menjadi keberuntungan bagimu dan bawalah dirimu ke kesederhanaan sebagai bentuk rasa syukur kita.


nikmatilah apa yang telah allah anugrahkan untuk kita, jalani cerita yang allah buat untuk kita, allah takkan pernah inginkan kesulitan pada ummatNya, kecuali kita sendiri yang menginginkan menajadi makhluk yang hidupnya selalu susah. keputusan ada di tanganmu.


depan yang gelap



jika aku masih bisa tertawa,,aku akan tertawa, aku tak ingin menggunakan waktuku untuk menangis kecuali karena Dia yang maha karya.

mungkin di depanku masih begitu gelap, aku tak tau akan ada di mana langkah ini berpijak.
walaupun begitu, langkahku akan tetap berusaha melanjutkannya. Menguatkan hati adalah caraku dalam melangkah, keyakinan diri adalah caraku dalam memutuskan arah mana yang akan aku pilih.

mungkin pijakan kaki ini memberi begitu berat tantanganku untuk melangkahkan kaki ini. tapi aku yakin apapun itu, allah pasti telah merangkai cerita yang indah untuk hidupku, sekarang waktunya kaki ini untuk berusaha menggapai indahnya cerita yang allah tetapkan untukku.