Jumat, 24 Maret 2017

Aku dan Perjuanganku

Pagi yang dingin di sini.
Haha
Aku teringat mimpi-mimpiku yang pernah aku tulis,
"Aku ingin tinggal di kota ini."
Sederhana alasannya kenapa waktu itu aku menuliskan kota ini sebagai kota impianku yang ingin aku tinggali entah dalam beberapa waktu. Hanya karena kota ini dingin dan sejuk.
Yeah... itu mimpi yang aku tulis beberapa tahun silam, saat aku pertama kali menginjakkan kakiku di kota ini.

Dan pada akhirnya, seiring berjalannya waktu, seiring dengan skenario Allah yang penuh misteri, aku akhirnya menyapa kota ini. Tinggal sudah hampir sebulan lamanya di sini. Menikmati suasana pagi yang sejuk plus dingin serta mulai berjuang untuk mimpiku selanjutnya.

Tidak heran kalau orang -orang yang pernah menuliskan mimpi-mimpinya dan mengatakan kalau suatu saat nanti, satu persatu akan terwujud,itu bukanlah sekedar cerita kiasan belaka.

Aku telah benar-benar mengalami semuanya sendiri. Telah beberapa hal yang aku mimpikan, dan entah aku sadari ataupun tidak semuanya perlahan terwujud dan saat aku menyadarinya, satu persatu mimpi yang telah aku tulis di buku mimpiku mulai banyak yang dicoret. Menandakan mereka sudah aku gapai dan aku alami.

Allhamdulilah.

Allah memang tidak pernah mengikari janjiNya,
Jika hambaNya mau berdo'a dan berusaha semuanya akan terkabulkan. Bahkan kadang Allah memberinya dengan hal yang lebih baik beserta bonus-bonus yang tak terduga.

Kini aku sekarang berada di kota yang aku impikan, satu hal yang belum terwujud di kota ini, aku ingin berkuliah di sini, hingga selesai dengan gelar terbaik.

Banyak yang bercerita, jika aku inginkan kampus yang aku tuju, sering-seringlah ke sana, walau hanya sekedar duduk dan menyapa dinding-dinding kampusnya. Kau akan benar-benar bisa berada di sana sesuai impianmu.

Dan sekarang aku disini, dikampus yang aku impikan sejak dulu, yang belum tercapai dan insyaa allah secepatnya terwujud.

Tapi untuk lebih dari semua ini, aku hanya bisa berdo'a, berusaha dan berdo'a. Jikalau kampus ini memang akan memberikan kesempatan untukku mengenyam pendidikan terbaikku di sini, aku yakin itu memang terbaik untukku, jikalaupun tidak, aku yakin itu hal yang allah anggap terbaik untukku. Dan aku tidak pernah sekalipun kecewa dengan semua keputusanNya. Aamiin.

MENIKAH ???

Menikah ?

Wow!
Haha...aku selalu merasa ingin tertawa kalau sudah membahas hal ginian.
Siapa yang tidak ingin menikah ?
Kalau kita lagi berada dalam ruangan dan seseorang bertanya hal tersebut kepada kita, kalian semua boleh menoleh ke arahku.
Lalu tatap mata saya, tatap..tataaaappp. Haha.
Mungkin kalian menebak saya tidak 'normal'kan.
Ahh..itu bisa jadi.
Dan tatapan kalian sekarang sudah berubah menjadi seperti melihat sesuatu yang menjijikan dan mengerikan.
Tapi percayalah, aku punya Tuhan kok.

Hanya saja aku melihat,memandang dan berpendapat bahwa 'menikah' itu suatu kata yang sangat sulit bagiku. Seperti kalian anak IPS yang terasa kepala penuh kupu-kupu saat disajikan soal Fisika atau seperti kalian anak IPA yang lebih memilih tidur daripada hapal menghapal pelajaran.
Kesulitanku terhadap kata 'menikah' bisa jadi hal ini disebabkan oleh pengaruh lingkungan. Ahh..semuanya bisa jadi kan ?

Aku selalu mencoba untuk memandang 'menikah' itu sebagai sesuatu yang sederhana. Tapi pada akhirnya itu semakin membuat kata ini semakin mengerikan.

Selasa, 17 Januari 2017

ANTARA AKU DAN KAMU

Oleh : Reny

Ini tentang antara aku dan kamu.

Tentang pertemuan kita, kebersamaan kita sampai perpisahan kita.

Aku ingin sedikit bercerita kepada dunia tentang kamu. Maybe. Mungkin juga akan sangat panjang lebar. Haha. Kalau kata dosenku dulu, aku tuh semestinya masuk jurusan Sastra Fisika, karena hobinya aku dalam bercerita dan menulis. Sayangnya jurusan itu tidak ada, jadinya aku harus Nyasar kependidikan Fisika ini. Hehe.

Pertemuan kita, yaitu antara aku dan kamu bukanlah kehendaakku, atau kehendakmu, Tapi kehendak-Nya. Kita ditakdirkan untuk bertemu, saling melengkapi dan mengisi catatan tentang kita selama bersama walaupun pada akhirnya kita harus berpisah.

Aku tahu dengan pasti, tidak semua hari-hari yang aku lalui bersamamu adalah hari-hari yang manis, bukanlah semua hari-hariku menjadi hari-hari yang menyenangkan saat kita bersama. Jujur saja, aku kadang menangis dengan sikapmu yang kadang begitu acuh, egois dan keras. Terkadang juga kamu marah tanpa sebab kepadaku atau terkadang marahmu benar-benar sangat menyakitiku. Sebenarnya bisa jadi kamu juga pernah begitu sakit hati dengan sikapku, mungkin saja kamu juga pernah begitu kecewa denganku, hanya saja kamu terlalu keras untuk menitikkan air matamu di hadapanku. Mungkin di belakangku kamu lebih dan lebih banyak lagi menitikkan air matamu karenaku.

Tapi setelah perpisahan kita, aku berani mengatakan dengan sangat lantang kepada dunia, bahwa semua hari dan semua hal tentang kamu dan aku adalah hal yang terindah yang pernah aku miliki.

TERINDAH.

Ya. Aku yakin itu dengan pasti.

Tidak salah kalau pepatah orang yang mengatakan, bahwa kita baru akan merasa sangat kehilangan saat semuanya sudah tidak ada lagi dan sudah tidak kita miliki lagi.

Akupun baru menyadari bahwa senyumanmu adalah senyuman yang paling tulus, menenangkan dan yang termanis yang pernah aku lihat dan aku miliki.
Dan aku telah kehilangan itu semua.

Aku tidak pernah menyesali perpisahan kita. Karena perpisahan ini telah begitu banyak mengajarkanku tentang kehidupan dan arti keikhlasan yang sesungguhnya. Sama seperti saat kita bersama dulu. Banyak hal yang telah kamu perbuat untuk menjadikan aku tegar dan kuat terhadap semua permasalahan hidup. Walau terkadang tetap saja air mata ini jatuh dengan sendirinya saat kusebut namamu. Bahkan saat aku menulis ini, air mata ini tetap tidak bisa berkompromi. Kalau orang lain melihatnya, semoga saja mereka beranggapan aku sedang kelilipan, tapi itu berlaku untuk orang yang berumur 1- 3 tahun alias semua orang tahu bahwa aku sedang menangis.

Satu hal yang sangat aku sayangkan adalah aku belum sempat mengatakan,
aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.

Bahkan mungkin memang aku baru menyadarinya setelah kita berpisah.
Setelah kamu pergi.

Aku baru menyadari betapa besarnya ketulusan cintamu, aku baru menyadari keikhlasanmu memilikiku dan besarnya rasa sayangmu terhadapku.

Semuanya baru kusadari sepenuhnya.

18 Januari adalah angka yang begitu bearti untukku. Sama halnya angka 8 bagimu. 8 Desember adalah pertemuan pertama kita. Dan 18 Januari adalah tanggal perpisahan kita. Semua terkait dengan angka 8, entah kebetulan atau memang sudah begitu, yang pasti aku menyukai angka 8. Angka yang penuh lika-liku namun tak terputus antara titik awal dan titik akhirnya. Sama seperti lagu dangdut :

“Hidup penuh liku-liku, ada suka ada duka, semua insan pasti pernah merasakanyaaaaa....”

Tapi jangan suruh aku nyanyi ya, karena percayalah, aku orangnya suka bernyayi tapi lupa dengan nada. Bahkan sering juga lupa lirik. (keseringan). Haha.

Untuk kamu yang disana,

Aku rindu.



Sekian.

AKU DAN KEINGINAN MELEPAS JILBAB

oleh : Reny


Ini kisahku tentang perjalanan hidayah pakaian yang aku kenakan sekarang. Sebelum lanjut keceritaku, mari sedikit aku definisikan tentang jilbab dan kerudung. Biar nanti tidak ada kesalahpahaman.

Jilbab itu pakaian taqwa muslimah yang menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, sedangkan kerudung adalah penutup kepala, bisa berupa selendang, atau bahan sejenisnya. Sifatnya hanya sebagai penutup kepala.


Lanjut keceritaku.

Aku terlahir dari keluarga biasa-biasa saja. Keluarga sederhana dalam arti sesungguhnya. Ayah dan ibuku bukanlah seorang kyai atau ustazah. Masalah agama, merekapun mengetahui sekedarnya saja. Ibuku belajar agama secara mandiri, lewat hobinya membaca dan mendengarkan ceramah dari televisi setiap selesai shalat shubuh. Kalau sekarang beliau masih ada, mungkin beliau salah satu penggemar acara mama dedeh ‘curhat dong mah’ hehe.

Hingga pada akhirnya beliau memutuskan mengenakan jilbab setelah mengetahui bahwa pakaian wajib seorang muslimah saat sudah berumur baligh adalah jilbab atau pakaian taqwa.

Banyak yang mencemo’oh tentang pakaian ibuku, bahkan pernah disebut-sebut sebagai ‘teroris’ oleh orang-orang di daerahku. Maklum kala itu yang menggunakan jilbab hanya segelintir orang di daerahku, bahkan di Indonesia hal itu masih aneh dan tabu.

Ahh..lumayan panjang ya cerita tentang ibuku, nanti kapan-kapan aku ceritakan khusus tentang beliau dan untuk beliau.

Intinya aku hanya ingin menggambarkan kepada kalian, aku sama seperti kalian, bukan berasal  dari keluarga yang luar biasa dan juga sangat biasa dalam pengetahuan agama. Hanya saja bedanya, ada yang mau belajar dan ada yang belum mau belajar.

”Tria pas SMP gek, suruh pakek jilbab be” pesan kakakku pada ibuku.

“iyo, biar pacak berubah pulo kelakuan dio ni, yang galak nyeleneh dewek” jawab ibuku setuju.

Itulah percakapan awal yang telah mengubah duniaku selanjutnya.

Saat itu aku benar-benar tidak tahu apa itu jilbab. Aku hanya tahu, saat aku mulai masuk di hari pertama sebagai siswi SMP, aku mengenakan baju panjang, rok panjang dan kerudung penutup kepala. Pakaian itu sama yang ibu aku kenakan sehari-hari. Jadi aku tidak merasa asing lagi, hanya saja aku memang belum tahu makna sesungguhnya dari jilbab.

Tidak heran, bulan-bulan pertama aku mengenakan jilbab, aku masih seperti yang dulu.

Masih hobi manjat pohon,terutama pohon seri depan rumahku tanpa menggunakan jilbab. Sebuah kegiatan sore hari yang wajib aku lakukan dengan kedua sepupuku. Pohon seri yang jaraknya kurang lebih 2 meter dari jalan raya. Selalu aku naiki tanpa menggunakan kerudung dan tanpa malu. Sifat anak-anak SD –ku masih sangat melekat kala itu. Yah.. padahal saat itu aku sudah resmi menjadi siswi SMP dan sudah beberapa bulan kemarin resmi mengenakan jilbab.

Kebiasaan jelek keduaku adalah sering bolos shalat. Shalatku saat itu masih banyak ‘bolongnya’ daripada ’adanya’.

Kejadian pertama :

“Tria, lah shalat zhuhur belum?” tanya kakakku.

“belum, gek be, aku kekenyangan kak,sakit perut aku.” jawabku ngeles.

“shalatlah, gek dak lagi kekeyangan, ilang raso sakit perutnyo”

Oke aku shalat saat itu, tapi bukan karena Allah, hanya karena diiming-imingi bakalan tidak lagi 
terasa sakit perut akibat kekenyangan.

Kejadian kedua :

“Tria, lah shalat Ashar belum?” tanya kakakku.

“belum, gek be” jawabku sekenanya. Aku masih sibuk ngadu semut semade (semut hitam yang besar, ada dua capit di bagian atas kepalanya, biasa hidup di tanah yang gembur atau berpasir), permainan ini masih hits kala itu di daerahku dan aku sering memainkannya bersama sepupuku. Sama seperti ngadu ayam, bedanya ini semut semade yang kami adu.

Satu jam kemudian.

Tiba-tiba kakakku berdiri di depanku sambil membawa sapu ijuk (sapu yang ganggangnya terbuat dari kayu)

“masih nak maen, apo ganggang sapu ini melayang ?” ujar kakakku diiringi petir dan kilat menyambar-nyambar di belakangnya,lebay. Hehe.

Puk..puk...

Ganggang sapu itu sukses berkenalan dengan kedua betisku, membuatku langsung tunggang langgang menuju kamar mandi sambil dikejar kakakku yang masih mengacungkan ganggang sapunya.

“ampuuunn ...kak, ampuuunnn.”langsung kututup rapat-rapat pintu kamar mandi lalu mengambil wudhu.

Shalat kali ini, karena takut dengan sapu kakakku bukan takut dengan Allah.

Kejadian ketiga :

Hari itu adalah hari besar islam, peringatan maulid nabi Muhammad SAW. Acaranya diadakan di masjid samping sekolahku. Seluruh murid wajib hadir ke dalam masjid, bahkan diancam akan diabsen dan yang tidak datang akan dikenakan sanksi.

Yups, benar yang ada di pikiran kalian, aku tidak hadir alias minggat. Aku dan empat orang temaku berdiam tetap dikelas. Satunya memang noni (non islam) tiganya lagi aku dan dua temanku, kami semua muslimah yang anggun dan rupawan. haha.

“nak ke masjid dak yak?” tanya temanku,

“males ai, lesu bejubel jubel dalam situ, panas,dikelas be peh,” ajak sesatku kepada dua temanku.

Akhirnya kami tidur-tiduran dalam kelas, tiba-tiba ternyata ada guru piket yang patroli keliling kelas, memeriksa kelas satu persatu kali aja ada yang bertingkah tidak datang ke masjid, dan betul adanya. Kamilah contohnya.

Dengan segala cara kami melarikan diri, satu temanku sembunyi di bawah kolong meja guru, satunya lagi mengikuti jejakku melompati jendela kelas yang lumayan tinggi, padahal waktu itu aku pakai gamis (baju panjang terusan, biasa juga di sebut jubah). Tapi karena pada dasarnya aku biasa panjat memanjat pohon, lompat melompati pagar, jadi dengan mudah saja tanpa susah payah aku melompati jendela dengan pakaian gamisku.

Kasihan temanku, dia tertangkap guru piket, saat berusaha melompat, kakinya tinggal sebelah. Sebelah sudah sukses keluar, sebelahnya lagi masih di dalam kelas, hasilnya kaki itulah yang ditarik-tarik oleh guru piket yang lagi patroli. Dari kejauhan aku hanya mendengar suaranya.

“ampun bu, ampun..ya bu dak lagi, ampun.”

Aku sudah melesat secepat kilat mencari persembunyian lain. Haha.

Bagaimana dengan kisah kalian? Itu kisahku tentang shalat bolong-bolongku, tentang aku yang suka lepas jilbab semauku dan tentang ibadahku lainnya yang belum sempurna. Sama kok dengan kalian, aku juga pernah mengalami masa-masa kelam, masa-masa jahiliyah seperti itu.

Tapi apakah aku terus begitu?

Allhamdulilah sedikit demi sedikit berkurang dan sekarangpun masih terus dalam tahap belajar. Jilbab menumbuhkan rasa malu dengan semua masa jahiliyahku itu.

Aku mulai malu kalau shalat banyaklah bolong-bolongnya.

Aku malu kalau keluar rumah tidak pakai jilbab, bahkan walau hanya sejengkal dari pintu keluar rumah.

Aku malu kalau shalat harus kejar-kejaran dulu dengan sapu kakakku. haha.

Proses pertamaku dalam berjilbab telah aku lalui. Yaitu sedikit demi sedikit memperbaiki shalatku dan kebiasaan jelekku.

Lalu apakah sampai disitu saja ujianku dengan pakaian taqwa ini. Tidak. Rentetanya masiiiiihhh panjangggg. Bahkan mungkin ujian kali ini adalah ujian yang dialami oleh hampir semua wanita muslimah yang mengenakan jilbab. Mungkin ini ujian paling berat atau justru paling ringan, tergantung sudut pandang kita masing-masing.

Saat aku menginjak bangku SMA, jilbab bukanlah hal yang asing lagi bagi daerahku, bahkan sudah menjadi tren busana di negaraku. Ibuku juga sudah terlepas dari panggilan ‘teroris’. Jilbab sudah diterima dengan baik di negeri ini. Dan aku sangat bersyukur dengan hal tersebut.

Seiring berjalannya waktu, satu persatu teman-teman perempuanku menemukan hidayah mereka sendiri untuk menggunakan pakaian taqwanya. Terkadang aku begitu iri dengan mereka, mereka mampu menemukan hidayah mereka sendiri, memantapkan hati mereka sendiri dengan hidayah itu untuk berjilbab. Karena memang, aku mendapatkan hidayahku bukan dari hati, tapi dari kewajiban kakak serta ibuku. Namun, aku tetap bersyukur, pada akhirnya aku juga menemukan hidayahku sendiri sepanjang perjalananku bersama pakaian ini. Karena masing-masing dari kita berbeda cara Allah memberikan hidayahNya kepada kita.

Kalau dulu aku tidak diwajibkan pakai jilbab saat SMP, mungkin sampai sekarang belum tentu aku sudah berjilbab. Semua ada hikmahnya.

Setelah masa-masa SMA, aku mulai mengenal dunia idealismenya mahasiswa. Disinilah mungkin puncak proses keduaku dengan pakaian ini.

Banyak dari teman-temanku semasa sekolah dulu, mulai pangkas memangkas, babat membabat pakaian taqwa mereka. Hingga ada yang sampai pangkas habis tak bersisa. Dunia kerja dan dunia kampus yang aku kenal dan mereka kenal memang begitu kuat menggerus jilbab para muslimah. Pergaulan dan budaya serta macam hal lainnya begitu tidak terkendali. Akupun melaluinya dengan sangat berat.

Bahkan dimulai saat aku akan pengambilan foto untuk ujian nasional, baik SMP maupun SMA. Entah darimana aturan yang mengharuskan kalau fotonya harus menampakan telinga atau alasan aneh lainnya. Kalau fotonya tetap pakai jilbab, katanya nanti tidak lulus. Yah... aku tetap berkeras dengan pakaianku. Apapun yang terjadi, aku yakin Allah maha penolong bagi hambaNya yang berjuang demi kebaikan.

Dunia kuliah dan kerja, sudah aku katakan di atas tadi, sangat begitu kuat gravitasinya untuk menyedot habis jilbab-jilbab para muslimah.

Aku belajar dari ibuku. Apapun yang terjadi diluar sana, ingatlah ada hari esok yang lebih kekal dan kita akan berada selamanya di sana. Dunia tidak akan pernah ada habisnya. Dia akan semakin gemerlap dan semakin gemerlap saat syetan sudah turun tangan.

Melepas jilbab bukanlah suatu pilihan, bahkan walaupun dijanjikan segunung harta itu tak ada apa-apanya dengan milik Allah sejagad raya ini.

Aku dan perjalanan bersama pakaian ini bukan tidak pernah dihadapkan pada pilihan untuk melepas jilbabku demi dunia. Tapi masih ada sedikit bagian hatiku yang sangat takut dengan neraka membuatku semakin kuat bertahan dengan pakaian ini. Walau aku juga bukan orang yang selalu baik-baik, bukan orang yang level imannya selalu up, bahkan pernah terjun bebas atau mungkin sangat sering terjun bebas, tapi tetap, hati kecilku ini penakut. Aku tidak seberani mereka, untuk menghadapi dunia tanpa jilbabku. Karena jilbabku benar-benar telah melindungiku dan mengubahku sedikit lebih baik dari kemarin.

Kita berubah bukan untuk menjadi lebih baik dari siapapun tapi berusaha menjadi lebih baik dari kita yang kemarin dan saat ini.



*cerita ini 70% fakta, sisanya sekedar pemanis buatan, penyedap rasa dan penambah selera. Jika ini bermanfaat, ambil hikmahnya, jika tidak, tetap ambil hikmahnya. Maksa. Hehe.

                                                                           
^Semoga bermanfaat^

Selasa, 15 November 2016

Pangeran Khayalanku (5)

Rinjani menatap kosong layar laptop di depannya yang juga menampilkan layar putih kosong. Pikiran Rinjani kembali kepada sahabatnya, Ririn. Rasanya dia begitu rindu dengan ririn yang dulu, menggemaskan dengan segala ceritanya yang tak hentinya dan tak pernah ada habisnya. Dia yakin pasti ada masalah yang begitu pelik yang sedang di hadapi oleh ririn. Hanya saja rinjani tak menyangka masalah tersebut benar-benar bisa membuat sahabatnya itu berubah 180 derajat dari biasanya. Rinjani dan Ririn sebenarnya sudah lama saling kenal, mereka tak hanya bersahabat sejak SMA, mereka telah bersahabat sejak SMP. 

Ririn bagi rinjani adalah sosok yang penuh keceriaan. Tidak ada masalah apapun yang bisa membuatnya murung. Rinrin tampak simbol keceriaan di manapun dia berada. Hingga Rinjani percaya, semua bagian hidup Ririn selalu menyenangkan, sisi kesedihan dihatinya tak mendapatkan ruang sedikitpun. Dan hari ini, Rinjani benar-benar tak percaya, semua senyum ceria yang selalu melekat di bibir merah Ririn dan semua tawa riangnya seakan tiba-tiba hilang. 

Rinjani berniat menelpon Ririn malam itu juga, tapi niatnya itupun diurungkannya saat dia melihat jam di layar handphonenya sudah menunjukkan waktunya orang-orang normal beristirahat. sambil terus memikirkan segala kemungkinan penyebab hilangnya senyum Ririn, Rinjanipun akhirnya tertidur.

@  @   @


Senin, 14 November 2016

Dempo, I'm Coming !


Oleh : Reny



Siapa sangka mimpi yang pernah aku tulis dulu menjadi kenyataan. Kalian bisa bayangkan, sesuatu yang sangat kalian inginkan selama ini menjadi kenyataan. Sesuatu yang rasanya mustahil terwujud, tapi hal itu kalian dapat wujudkan.


Yeah! That’s incredible.
Aku benar-benar bersorak ria. Rasanya ini mimpi, tapi saat aku cubit pipiku. Sakit. Yaelah ini kan memang kenyataan dan aku senang, senang, senang. Sayangnya aku tidak bisa salto, kalau aku bisa salto, mungkin aku akan salto bolak balik di lapangan bola. Haha. Ngayal.


Sebelum aku panjang lebar bercerita tentang perjalanan kami yang mengharu biru. Lebay. Mari kita kenalan dulu sama Gn. Dempo. Bagi Mahasiswa pencinta alam, atau para komunitas pencinta alam seluruh Indonesia, pasti kenal dengan gunung satu ini, terutama yang berdomisili di sekitaran Pulau Sumatera.


Gunung Dempo memiliki ketinggian sekitar 3.173 m (10.410 kaki, kaki orang dewasa ya, bukan kaki bayi) terletak di provinsi Sumatera Selatan, di perbatasan antara kau dan aku, baper. Hehe. Salah ding, di perbatasan antara provinsi Sumsel dan Bengkulu tepatnya di kota Basemah nama lain dari kota Pagaralam. Kota dingin penghasil teh hijau favoritku dan terkenal juga sebagai penghasil kopi robusta. Kalau kalian dari kota Palembang tanpa macet, bisa ditempuh jalur darat sekitar 7-8 jam. Kalau dari tempatku dilahirkan dan dibesarkan bunda, di kota (red: dusun lewat, kota belum masuk) Muara Enim, bisa ditempuh sekitar 3-4 jam dan memang belum macet.


Nah, kalau kalian lihat foto keren kami yang di atas, kami berada di titik awal pendakian letaknya di kampung IV. Di sana kami bermalam satu malam, persiapan untuk pendakian esok harinya. Di kampung ini listriknya masih mengandalkan genset, jadi kalau tidak salah sekitar pukul 10 malam listriknya padam dan baru dihidupkan lagi pagi-pagi keesokan harinya, aku lupa jam berapa ya?


Pendakian ini dilakukan oleh enam pemuda dan dua pemudi dengan semangat membara yang penuh cita-cita dan penuh kasih sayang, suka menabung, suka membantu dan eitss, ngelantur.  Intinya kami mempunyai visi dan misi yang sama. Tapi, jangan kalian bayangkan pendakian ini berjalan dengan mulus. Pendakian yang kami sebut sebagai Trip Ucak-Ucak ini kayak kalian ngeliat Bulan. Mulus dari jauh, tapi sesungguhnya penuh kawah-kawah yang dalam, intinya tidak semulus yang dibayangkan dan terlihat.


Awal berangkat saja kami sudah merasakan terjalnya, bukan terjal jalannya saja. Tapi terjalnya keegoisan masing-masing. Akhhh... disitulah kau akan lihat sifat asli mereka. Masalah awal, tenda yang kurang, mepet-mepet waktu keberangkatan baru lengkap tendanya. Satu tenda khusus kami wanita nan jelita dan dua tenda khusus kaum adam nan ...(isi sendirilah).


Perjalanan perginya menyenangkan dan memang penuh tawa. Ada yang dibully dan ada yang membully. Lalu bagaimana dengan aku sendiri. Jangan ditanya, aku benar-benar bahagia saat itu, bukan hatiku saja yang bergenderang gembira, jantungku rasanya ikutan nyanyi ala-ala Indiahe.

“yang cewek, perlengkapan siapin masing-masing yo” ujar ketua kelompok trip ucak-ucak kami. Sebut saja Jodi namanya.

Jodi kembali membuka-buka ransel gunung miliknya dan beberapa ransel besar lainnya.

“lah, ini apo dio Kimbo ?” ujarnya sambil menunjukkan beberapa pakaian ke arah salah satu temanku, sebut saja Kimbo.

“baju akulah,” jawabnya dengan ekspresi agak kesal karena bajunya dibuang keluar dari ransel.

“eh, kau tuh cowok Kimbo, jadilah yang ini bae yang dibawa.”

“oi Jodi, di sano tuh masih nak ganti baju,” ujarnya masih kesal, tapi Jodi tidak menghiraukannya. Dia tetap sibuk merapikan isi ransel-ransel lainnya. Kimbo pun Cuma bisa mendengus kesal lalu pergi.

“Jod, tendanya cukup kan?” tanyaku pada Jodi.

“cakmano yo Tan?” sebut saja namaku di sini Tania.

“masih kurang sikok tendanyo,” ujarnya dengan wajah menyesal.

“yah, kok gitu. Aku dak maulah berangkat, dak mungkinlah kami cewek satu tenda samo kalian,” ada nada kesal, marah, kecewa dan sedih disuaraku.

“tenang be lah Tan, gek ado solusinyo, si Udin lagi ngambek tenda sikok lagi kekawannyo,  buat kalian,” hibur temanku yang lain, sebut saja namanya Ajad.

“iyo, dak nak cemberut nian muko tuh” ujar Jodi sambil senyum. Saat itu mukaku bagaimana bentuknya aku tidak tahu, yang pasti mereka tertawa bersamaan saat melihat ekspresi dimukaku. 

Mukaku ini memang terlalu ekspresif.

Iyalah, wajar kalau aku ketar ketir, ini impianku, ini mimpiku, dan untuk pertama kalinya aku bisa dapat izin seperti ini. Dapat izin seperti ini tuh kayak mimpi disiang bolong kalau suara aku sebagus Raisa. Intinya ini kemustahilan yang aku dapat.

Beberapa saat kemudian terdengar suara adzan, sambil menunggu kak Odon jemput kami. Kami menunaikan shalat Zhuhur dulu di rumahnya Jodi. Kak Odon itu, tetua yang paling tua diantara kami. Tetua yang baik hatinya dengan memberi tumpangan secara gratis menuju kota Pagaralam. Dan baik hatinya lagi, dia tidak nangis sambil guling-guling saat mobilnya lecet oleh kondisi jalan yang terjal.

*pukpuk

Terimakasih Oppa Odon.

“kito makan dulu ye, biar perjalanan siang ini aman damai dan tentram,” ujar Komar sambil mengelus-elus perutnya yang kayak ngumpetin bola sepanjang masa, sebut saja ya namanya Komar.

“haha, yo Mar, percayo mba samo kau.” sahut mba Wati, sebut jugalah namanya atas nama mba Wati. Tokoh pemudi kedua dalam trip ucak-ucak ini.

“kito kan memang selalu sehati mba,” jawab Komar sambil senyum-senyum. Sebenarnya dialog diantara mereka tidak ada keterkaitan sama sekali. Tapi tidak apalah, toh itu berhasil membuatku tersenyum lagi.

Udin datang.

Udin : muka datar.

Aku dan lain-lainnya : muka ngarep.

“ado ?” tanyaku tidak sabar.

“emmmm...”

“seriusan Udin”

“cubo senyum dulu kau tuh Tan” kuusahakan tarik pipi kanan kiriku biar tampak senyum.

“haha, cubo nangis dulu” kembali Udin mempermainkanku.

“kutabok lamo-lamo gek,” aku mulai kesal dan sangat tidak sabar.

“Yo dem, siap-siaplah, tuh kak Odon lah sampe” jawabnya.

Jiahhhhhhhhhh.

Hatiku gembira

Riang tak tekira

Mendengar berita

Udin bawa tendaaaa....

*ups, tidak usah percaya aku beneran nyanyiinnya di depan cecunguk-cecunguk ini, cuma sekedar dalam hati doang kok. Joged-joged indianya juga dalam mimpi kalian saja. Haha.


Kamipun mulai mengecek ulang semua perlengkapan yang kami bawa lalu dilanjutkan dengan berdo’a bersama.

Semoga perjalanan ini sesuai dengan rencana dan target kami tercapai. Aamiin.

Yang tidak bilang amin, aku sumpahi kagak bisa senyum lagi, haha. Canda ding.


Tiba di kota Pagaralam tepat saat Adzan Maghrib, kami shalat lalu mampir sebentar ke rumah penduduk sana, kenalannya si Jodi. Kami mendapat wejangan tentang pendakian. Intinya harus siap fisik dan mental. Tidak boleh berlebihan dan harus tetap kompak.


Malampun tiba, sebelum kami mencari tempat untuk bermalam mendirikan tenda, kami mampir dulu ke warung tempatnya para pendaki-pendaki istirahat. Ramai, pastinya. Apalagi ini menjelang pergantian tahun Masehi. Di sinilah aku dan mba Wati, merasa menjadi kaum minoritas. Karena memang para pendaki itu umumnya para kaum adam, kaum hawanya bisa diitung pakek jari, justru kadang kalau cuma lihat sekilas susah bedainya, cowok apa cewek ya ?


Walaupun begitu, kami dua pemudi yang semangat ini tetap menikmatinya.

© © ©

Brrrr....

Dinginnya mulai menusuk tulang.

Pagi Dempo.

Aku bersemangat, walau sumpah dinginnya pakek banget.

Satu hal yang aku selalu kenang tentang pagi di hari itu, pagi itu pertama kalinya aku tidur di alam bebas, tapi tetep pakek tenda kok, kagak ngapar-ngapar aja.


Bagaimana suasana hatinya Tania ?

Senanggggggg ...senang dan senang komplit pakek banget.


Cuaca saat itu cerah, matahari membantu menghangatkan tubuh kami yang kedinginan.

Setelah berpose ria, dan berapi-rapi ria, kami kembali ke warung yang kami singgahi semalam, tidak jauh dari tempat kami mendirikan tenda untuk memberi bekal perut, terutama perutnya si Komar.

“dedek dalam sini dak boleh lapar, gek nangis, susah dieminnyo.” Ujarnya, lagi-lagi sambil mengelus perutnya.

“lucu Mar, haha” jawabku datar.

Muka Komar langsung manyun.

© © ©

Saat perjalanan menuju ke warung, tiba-tiba gerimis mulai mengundang. Itu lagu. Nggak tau? Ya udah, dak papa.


Sudah biasa kalau di daerah pegunungan, tiba-tiba cerah, tiba-tiba hujan. Cuacanya memang tidak pernah bisa ditebak. Sama kayak cewek, susah ditebak maunya apa. Hihi.

Inilah keadaan alam yang penuh misteri untuk ditaklukan.

“kito sarapan dulu, sedikit leha-leha, siapkan fisik kito, sambil nunggu ujan redo” ujar Jodi kepada kami.

Tapi setelah beberapa lamanya kami tunggu, hujan tidak menunjukkan akan tanda-tanda berhenti. Keputusan yang sulit harus kami ambil. Hari sudah menjelang siang, hujan tidak berhenti, hanya sedikit mengurangi derasnya. Padahal target awal kami berangkat sekitar pukul 9 pagi, sekarang sudah pukul 11 menjelang siang. Dengan mengucap Bismillah, kami memutuskan berangkat. Semua menggunakan jas hujan, kami memang sudah di wanti-wanti untuk bersiap-siap membawa jas hujan.

“mano punyo aku Jad?” tanya Komar kepada Ajad.

“nah,” ujar Ajad sambil memberikan jas hujan milik Komar.

“Jad, kau lupo siapo aku ni?” ujar Komar dengan muka serius.

“idaklah, kau Komar kan?”

“tau aku ni Komar, maksud aku tuh, aku ni Lanang Jad, kau kasih ini,” ujar Komar menyodorkan kembali jas hujan yang diberikan Ajad tadi.

Aku dan mba Wati coba menahan tawa, melihat perdebatan mereka berdua. Keduanya dari berangkat sampai sekarang memang paling sering berdebat. Ada-ada saja yang bisa jadi perdebatan mereka.

Kulirik sekilas jas hujan Komar yang diberikan Ajad.

Pink.

Hahahaha.

Meledak sudah tawaku.

Muka Komar sudah bentuk angka delapan. Ajad Cuma pasang muka datar saja.

“ya sudahlah Mar, samo be, jas ujan galo,” ujar mba Wati mencoba menenangkan Komar.

“tapi mba...” Komar mau protes, tapi langsung aku potong, “ sudahlah pulo Mar, cak budak kecik be nih, “

“iyo, tapi ini...” Komar masih mau membela diri. Aku melotot ke arahnya saat dia masih mau protes.

“tapi ini ... pink...” ucapnya dengan sangat pelan dan pasrah.


Perutku langsung sakit gara-gara tertawa.


Setelah Jodi melapor ke pos jaga, hal ini wajb dilakukan, karena untuk mengecek kesiapan kami baik fisik,mental dan perlengkapan yang kami bawa. Apakah layak untuk mendaki atau ditunda. Allhamdulillah kami mendapat izin untuk mendaki.


Kamipun siap-siap dan menyandang tas ransel masing-masing. Tapi lagi-lagi ada keributan antara mereka. Kali ini antara Kimbo dan Ajad.

“Kimbo, ini tas kau, ngapo kau ngambek tas aku” protes Ajad saat melihat tas raselnya sudah bertengger di punggung Kimbo.

“kau bawak yang itu be Jad, aku yang ini,” jawab Kimbo.

“kan kito punyo tas dewek-dewek Kim,” Ajad masih tidak terima.

“yang itu be lah Jad, aku nak yang ini nian, biar seragam samo baju aku,”

Toeng!


Baiklah permisahh sekalian, telah lahir tiga cecunguk ini ke dunia kita, dengan membuat masalah sepele bisa menjadi masalah perang dunia kesekian.

© © ©

“Oke kance, sekarang ujan, kito lambat-lambat be tidak perlu tergesa-gesa. Santai. Kalau ada yang nak istirahat, ngomong be jangan takut jangan gengsi. Sip.” Ujar Jodi sebelum kami melangkahkan kaki memulai perjalanan mendaki ini.

“oke, semangattt...” ujarku menyahut.

“mba Wati, kito sudah sehatikan, ado mba, ado aku, pokoknyo mba jangan jaoh-jaoh dari aku, aku ado untuk mba, kita lalui terjalnya jalan ini bersama-sama, sip mba” ujar Komar menebar janji palsunya.


Kami mulai berjalan. Hujan tetap dengan senang hatinya membasahi alam. Perjalanan kami sudah cukup jauh, kuatur terus nafasku sambil berdzikir agar tetap kuat untuk diriku sendiri dan untuk kami semua.


Kelelahan mulai tampak saat trek yang kami lalui sudah agak menanjak. Kami memutuskan untuk istirahat. Aku berada di depan bersama Kak Odon, Udin dan Kimbo, kemudian mba Wati, Komar, Ajad dan terakhir Jodi menyusul. Hujan tetap mengguyur jalanan yang kami lalui, sehingga membuatnya menjadi becek dan licin.


Kata orang, saat kalian mendakilah, kalian akan tahu yang mana teman sesungguhnya. Di sini bukan hanya diuji secara fisik, kita juga diuji secara mental, mengukur kadar keegoisan pribadi masing-masing. Kalau egois, kalian tidak akan peduli sekeliling, akan terus mengikuti ego, tidak mau berbagi dan tidak mau empati.


Sedikit banyak, melalui perjalanan ini, aku mengenal karakter mereka sesungguhnya. Bahkan karakter diriku sendiripun diuji disini. Kami melalui banyak ujian selama perjalanan ini. Membuat kami mulai harus belajar menahan ego, menahan amarah dan belajar peka dengan satu sama lain.


Perjalanan ini memang penuh rintangan, diuji dengan trek yang licin berlumpur, diuji dengan hujan badai, tenda bocor, makan nasi rasa beras atau beras rasa nasi,haha, dan diuji ketahanan hati tentang sebuah tekad serta kepedulian.


Apapun yang telah aku lalui bersama mereka, itu tidak pernah akan terlupakan olehku. Alam telah banyak mengajarkan pelajaran yang tidak akan pernah aku temui di pendidikan dan jenjang sekolah, atau universitas manapun. Kehadiran merekapun juga menjadi pelajaran yang berharga untukku.


Bagaimanapun akhir perjalanan ini, bagiku tidak ada mimpi yang gagal, kecuali tidak pernah kita coba.


Dempo.


Aku akan kembali lagi, entah kapan.