Pangeran khayalanku
Karya : Reny
Hari pertama MOS (Masa Orientasi Siswa).
Hari ini adalah hari pertama Rinjani mengenakan pakaian putih abu-abu. Setelah selama tiga tahun putih biru,
akhirnya warnanya berubah juga. Lebih tampak dewasa saat bercermin. Entah
berapa kali Rinjani memutar-mutar tubuhnya menikmati pemandangan yang baru ini.
Pagi-pagi sekali Rinjani datang, keadaan sekolah masih sangat sepi dan masih agak gelap hanya beberapa kakak kelas yang sibuk mempersiapakan acara penyambutan buat siswa baru SMA Negeri 3 Tanjung Batu. Rinjani lebih memilih duduk di bawah pohon samping lapangan basket. Lapangan basketnya tanmpak begitu bersih dan dengan beberapa pernak pernik hiasan sebagai simbol penyambutan siswa baru.
Rinjani begitu menikmati udara sejuk di sekelilingnya. udara pagi dengan wewangian rumput yang masih basah oleh embun, membuatnya semakin terlena dengan khayalannya. Rinjani berharap, dia bisa bertemu dengan kakak kelas yang nan menawan, bagaiakan seorang pangeran seperti di telenovela-telenovela selama ini. Korban film.
“hei kamu!” panggil seseorang.
Dia berdiri di tengah-tengah lapangan basket, Rinjani mencoba menajamkan penglihatannya dalam keadaan yang masih belum begitu terang. Tapi tampaknya Rinjani tidak mengenal orang yang memanggil ke arahnya. Awalnya Rinjani tidak yakin, jadi dia melakukan isyarat dengan menunjukan jari telunjuk tepat di depan mukanya. .
“emang ada yang lain hah!” suaranya tampak terdengar mulai kesal.
Kan bisa jadi ada yang lain, Rinjani hanya bisa mengupat dalam hati.
“oii buruan kesini!” kini tampaknya dia semakin
kesal.
“huh!” rasanya Rinjani ingin melemparkan semua isi tas ke arahnya
“huh!” rasanya Rinjani ingin melemparkan semua isi tas ke arahnya
Emangnya jaman
Belanda masuk Indonesia, sok berkuasa banget.
Walaupun hati Rinjani kesalnya minta ampun dengan tindakan orang tersebut. Tetap saja langkah Rinjani berjalan dengan cepat menuju ke arah orang tersebut.
Aku nggak mau hari
pertamaku jadi anak SMA rusak olehnya yang sok itu!
“adha apha khak?” nafas Rinjani masih ngos-ngosan.
“ada apa...ada apa?”
“lo kira lo ratu ya disini, kakak kelasmu jungkir
balik kerja buat nyambut kalian, eh lo nyantai-nyantai aja, serasa mandor!”
semburnya dengan nada tinggi. Dia teriak-teriak di dekat telinga Rinjani dan
setelahnya Rinjani merasa mendengar nyanyian kumbang didekat telinganya,
nging...ngiing...nging.. seperti bunyi kumbang yang mengitari
kepala.
“eh jawab kalo ditanya tuh!”
Aku terlonjak dari keasyikanku menikmati bunyi
dengungan nyamuk tadi.
“ eh iya kak” aku asal jawab aja dan ternyata hal
tersebut membawa petaka.
“apa kata lo! Ulangi!”dia tampaknya benar-benar
marah.
Aku yang sebenarnya memang dari tadi tidak memperhatikan
apa yang ia bicarakan, jadi dengan santainya aku ulangi kata-kataku dan...
“push upppp....” ujarnya kembali dan lagi-lagi
teriak di dekat telingaku.
Nih orang gila
atau habis obat sih, emang dia kira telinga gue ini toa, seenaknya aja
teriak-teriak.
Tapi kali ini walaupun aku sibuk bercaci
maki tentang dia di dalam hatiku, aku ikuti saja perintahnya, sekali-kali bikin
orang gila jadi senang, kali aja ada tambahan amal.
Huh!
“Upacara penyambutan siswa baru tahu ajaran . .
.bla...bla...bla...”
Aku berdiri di baris paling depan, aku
sebenarnya tidak menginginkannya. Tapi dasar cecunguk kakak kelas tadi yang
menyuruhku berdiri di sini, walhasil seluruh sinar matahari sukses membuat baju
baruku basah kuyup. Padahal pagi tadi sudah bikin ricuh orang rumah gara-gara
adik terkecilku lari-lari dengan segelas air di tangannya dan jatuh, bajuku
terkena sedikit percikan airnya. Padahal hanya sedikit, tapi aku ngamuknya
benar-benar kayak orang kebakaran jenggot. Dan sekiranya tuhan memang maha
adil, terlalu heboh dengan percikan sedikit, kini bear-benar bajuku bisa untuk
diperas kembali.
“pemimpin upacara memasuki lapangan upacara.”
Aku serasa mau pingsan, bukan karena
suara mc yang mendayu-dayu itu, tapi lihatlah di depanku. Pangeran khayalanku.
Berdiri tegap tepat di depanku. Dia membelakangi sinar matahari jadi kalau
dilihat dari sisiku, maka akan terlihat seolah-olah dia sedang memancarkan
sinar yang begitu membuatnya semakin tampak seperti malaikat turun dari langit.
Benar-benar seperti khayalanku selama ini. Matanya tajam, seolah-olah akan
menembus hati lawan di depannya. Alisnya tebal dan begitu rapi ditambah dengan
bulu matanya yang panjang bonus lentik, mataku saja tidak seperti itu.
Rahangnya yang walaupun belum terlalu nampak, tapi cukup semakin membuatnya
terlihat sangat tegas dan meneduhkan. Warna kulit putih berseri kontras dengan
hidung ala baratnya. Mungkin saja dia blasteran. Tapi apapun itu. Semuanya
terlihat sempurna, terlihat dan terlukis sesuai dengan bayanganku tentang
standarisasi kegantengan cowok.
Kini panas matahari berubah menjadi begitu dingin.
Dingin sekali. Hahaha.
Sepanjang perjalanan upacara tak
henti-hentinnya aku senyam-senyum sendiri. Wow! Hari pertama yan begitu
menyenangkan. Walau dibuka dengan teriakan yang aneh. Tapi upacara kali ini
untuk petama kalinya aku bersyukur berada di barisan paling depan. Selamanyapun
tidak masalah asalkan dia yang menjadi pemimpin upacaranya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar