Dan sekarang upacara telah usai. Aku celingukan
mencari si pangeran khayalanku. Kemanakah dia gerangan.
“semuanyaa....siswa baru tanpa terkecuali, sekarang
juga berkumpul di lapangan upacara..”
Suara
menyebalkan itu lagi.
Dengan langkah berat aku menuju lapangan upacara.
Semuanya berlari-lari, hanya aku yang berjalan dengan santai. Lagian ngapain buru-buru, lapanganyakan
nggak kemana-mana. Kembali aku tidak sadar akan bahaya yang telah menantiku
di depan sana.
“ kamu yang berkuncir merah” suara itu lagi. Dan
lagi-lagi tampaknya di tujukan kepadaku. Karena tanpa bertanyapun aku tahu,
lihatlah seluruh mata memandang ke arahku. Memvonis diriku yang terlalu santai.
Pasrah.
“cepat kesini!” lagi-lagi dengan suaranya yang
menggelegar itu. Walau sedikit ada dongkol tetap saja aku turuti maunya apa,
karena bagaimanapun juga dia adalah kakak kelasku. Dia lebih tua dariku dan
sepatutnya aku hormati selagi tidak nyeleneh. Itulah nasehat ibuku. Hehe.
Kupercepat langkahku ke arahnya.
Sesampainya di sana. Dunia ingin kubelah dan aku menghilang di dalamnya. Atau
aku ingin lari sekencangnya dan menghilang dari sana atau...pokoknya aku ingin
menghilang. Bukan karena aku begitu takut, karena mukanya yang hilang sebelah,
atau giginya yang tumbuh di jidat bukan juga karena dia memegang cemeti dengan
pakaian lengkap perang dan siap memukulku tapi karenaaa..............
Dia pangeran
khayalankuuuuuu!!!!!!!! Oh nooooooo
Kini dia tepat berada di depanku dengan
tatapan tajamya yang tadi begitu kuimpikan justru kini menghujamku. Yang aku
harap memandangku dengan keteduhan tapi justru berbalik menerkamku dengan
pedang tatapanya. Inikah yang aku impikan. Diluar khayalan!
Ternyata tadi pagi aku benar-benar
terserang penyakit linglung tingkat akut, kenapa aku tidak menyadari dialah
malaikat malikku pagi tadi. Menyiksa telingaku dengan teriakan mautnya.
Membuatku srasa dikelilingi ribuan nyamuk. Saat aku ingat-ingat, pagi tadi
memang wajahnya tidak terlalu jelas terlihat, dia menggunakan sweater dengan
tutup kepala yang hampir menutupi seluruh mukanya. Dan keadaan pagi tadi masih
agak gelap. Serta aku selalu menunduk saat dia mulai teriak-teriak. Walhasil
aku melewatkan melihat mukanya dengan jelas. Kini terlambat sudah. Aku telah
menyia-nyiakan waktuku tadi dengan begitu mengaguminya sepanjang upacara
berlangsung, melupakan teriknya matahari yang membuat bajuku siap untuk diperas
kembali.
“kau tahu apa kesalahanmu?!” teriaknya
membahana. Aku yakin seluruh isi sekolah sedang menonton adeganku dengannya.
Serasa sedang menonton pertunjukan drama opera. Sayangnya aku berperan sebagai
pemeran wanita yang tertindas. Dan sedang dipermalukan.
“iya kak” ujarku lirih.
“apa!” teriaknya lagi. Nggak usah pakai urat kali kak,
biasa aja lagi.
“emmm..saya telat berkumpul di sini.”
“lalu” aku bingung, lalu....
“lo nggak sadar apalagi kesalahan lo!”
Dengan polosnya aku menggelengkan kepalaku. “emang
apa kak?”
Wajah di depanku terlihat mengeras.
Grahamnya sedikit tertarik ke atas pertanda orang yang sedang mencoba mengontro
emosinya. “ lo senyum-senyum nggak jelas waktu upacara berlangsung dan lo nggak
sadar itu bentuk kesalahan lo?” ujarnya sambil melotot.
Nggak usah
melotot uii, gue udah ilfill ma lo,nggak tertarik tau! Lagian gue senyum-senyum
juga gara-gara lo, makanya punya wajah ganteng tuh dikantongi aj, nggak usah
pamer. Bikin orang bermasalah aja.
“punya telinga nggak sih lo nih?!” dari
tadi ditanya lo adem ayem aja, kenapa, lo nggak suka dengan gue?” dia semakin
marah tampaknya, apalagi dari tadi aku hanya diam dan tampak membuatnya seperti
berbicara, teriak-teriak dan marah-marah sama patung.
“hei jawab!” dia kembali berteriak dan
mengagetkanku, sehingga tanpa sadar aku berucap kata-kata yang tak pernah
inigin aku ucapkan, kata-kata yang semakin membuatku ingin ditelan bumi, di
bawa terbang angin serta dunia kiamat.
“karena aku suka liat kakak tadi..hhmmff”
“aiissshh...” aku meringis, ada apa dengan mulutku.
Dasar tidak dapat kompromi! Aku benar-benar marah pada diriku dan malunya itu
lho, nggak tahannn.
Semua mata menatapku dan suasana hening seketika.
Oh Bundaaa, bantulah anakmu ini, apa yang harus aku
lakuakn. Pipiku memanas dan aku rasa pipi ini telah berubah menjadi tomat yang
siap dipanen. Ohhhhhh nnoooooooo..........
Lari
Itulah dalam pikiranku, tapi kakiku terasa kelu aku
hanya mampu berdiri di sana dengan ratusan mata menatapku sinis, jijik,
cemburu, atau apalah, mungkin juga kasihan. Aku tertunduk lesu, terpekur diam
menatap semut yang berjalan beriringan masuk kesarangnya. Andai aku bisa
berubah jadi semut, pasti aku takkan hidup menanggung malu ini. Hiks.
“Hah! Ulang sekali lagi!” ada suara cewek yang tak
kalah nyarinngnya dari arah belakang telingaku.
Jiaahh...kalo
budek,ya budek jangan dibawa-bawa dong!
Aku tetap diam, tadikan bukan sengaja, yaa..walaupun
itu dari hati.
“hei budek, dengar nggak sih lo!” kembali cewek yang
sepertinya senior cewek kami membentak tepat di samping telingaku.
“iya kak,”
“iya kak..iya kak..iya kak” ujarnya dengan gaya
mencibir menirukan suaraku.
“ lo keliling, puterin nih lapangan basket sma
lapangan voli disana, sambil teriak-teriak... GUE CINTA KAK JAKA, non stop”
ujar pangeran khayalan yang telah transformasi menjadi pangeran kegelapan. Huh!
Menyebalkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar