Hari terus berganti, minggu, bulan dan tahun ke tahun pun terus berjalan. Mereka tak pernah lagi berkomunikasi. namun, di hati Tika, ingatan tentang Dhani tetap terus membanyanginya, sekeras apapun dia ingin melupakannya.
Dhanipun demikian, tanpa sepengetahuan Tika, Dhani sebenarnya tetap terus memperhatikan Tika, walaupun hanya dapat dilakukanya dari jauh. Dia ingin agar Tika memang benar-benar dapat menjaga hatinya, serta memang diapun ingin dapat menjaga hatinya sendiri.
Hingga tiba suatu waktu, ada sebuah paket terselip di kotak pos rumah Tika. Setelah membacanya dengan seksam dan tidak lupa mengeja nama seseoang yang tertulis di sana secara berulang kali. Dia mencoba menepis bahwa dia sakit dengan isi undangan itu.
Paket itu adalah sebuah undangan.
yahh...Undangan dari Dhani tentang pernikannya. Remuk. itulah yang terasa di seluruh tubuhnya. Dia mencoba menepis bahwa dia menjadi sakit dengan berita di undanganitu. Tapi air matanya tidak dapat membohongi rasa yang terselip di hatinya. Rasa yang dicobanya untuk dikuburnya dalam-dalam. dan tampanya semuanya sia-sia.
setetes demi setetes air matanya jatuh, tubuhnya bergetar, dia pun terduduk lemah di sudut kamarnya. Dia begitu merasa bodoh, meraas begitu lelah menyia-nyiakan waktunya yang bertahun-tahun agar dapat melupakan Dhani, tapi semuanya terasa menjadi uap, rasa sakit itu terasa dan begitu menghantuinya. Beginikah rasa pedih itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar