Rabu, 03 April 2013

Rasa yang pernah ada (9)

Saat kebingungan dengan muka yang semakin miris. Tiba-tiba sebuah lampu sorot menyinarinya. Ada apa lagi ini, pikiran Tika semakin kalut, terselip penyesalan datang ke resepsi ini, kalau dia tau dia akan jadi bahan perhatian.

"yaaa...inilah dia pengantin wanita yang kita tunggu-tunggu sejak tadi,"
andai jatung tika bisa copot, pasti itulah yang dia rasakan dan ia pikirkan
what??
pengantin wanita, apa maksudnya coba.
mulut Tika seketika itu langsung terbuka lebar sangking shocknya mendengar pernyataan dari MC di atas panggung.
apa-apaan ini, sudah datang jadi pusat perhatian, mau duduk, bangku kosong nggak ada, sekarrang malah jadi bahan leluconnya tamu undangan. nggak tau apa, aku ke sini sambil membawa luka.

saat tika melihat ke arah panggung mempelai. dia tambah curiga, di sana hanya berdiri Dhani yang sedang menatap ke arahnya sambil tersenyum lebar. Kalau tadi rasanya jantungnya mau copot, tapi kali ini rasanya copot beneran. Buru-buru Tika meletakkan telapak tangan kedadanya, mencoba meredakan apa yang bergejolak di hatinya

tapi tidak mungkin!
bukankah jelas-jelas di undangan itu, Dhani kan menikah dengan orang lain.

"Tika, majulah nak," ujar sebuah suara, yang terdengar tidak asing di telinganya. ya...benar seklai, tampak ayahnya sedang berdiri tegak di samping Dhani.
 Tika semakin bingung dengna semuanya, tepuk riuh membahana di dalam gedung itu. Tanpa komando, secara ta sadar langkah kai Tika berjalan menuju ke arah ayahnya yang disamping beliau berdiri sesok Dhani yang hampir tidak dia kenali. Dahani dan Tika memang tidak pernah bbertemu hampir 10 tahun lamanya, wajar saja Tika hampir tidak meneganali sosok Dhani.

ayah apa yang terjadi. Itu suara hati Tika dan seolah -olah Dhani mampu membacanya, sebab setelah Tika tepat menginjakkan kakinya di panggung tempat Dhani dan ayah Dhani berada serta tampaknyya kedua orang tua Dhani pun telah berada di sana.
"maafkan aku Tika atas semua yang barusan terjadi." ujar Dhani lembut, di iringi tepukan riuh seisi gedung itu.

"jadi?" Tika masih tampak shock, dia hanya mengutarakan sepatah kata atas semua yang barusan menimpanya
"lelucon apakah ini?"

"Ini bukanlah lelucn Tik, inilah yang terjadi dan inilah keseriusanku padamu,"

"tidak! aku tidak mengerti, maksud kalian apa ini," antara marah, bahagia atau sakit, tika tidak tahu benar apa yang ia rasakan, yang pasti air matanya menetes, entah itu air mata rasa sakitnya atau rasa bahagianya.
"Tika, ayah telah lama memeperhatikan semua yang kau lakukan selama ini, setiap ada yang datang melamarmu, kau selalu menolak mereka dengan alasan yang menurut ayah, terkadang bukanlah alasan yang dapat diterima. Hingga suatu hari Dhani mendatangi ayah, dan membicarakan semua tentangmu serta mengutarakan niat seriusnya untukmu."
aku tak sanggup mengakat kepalaku.
"ayah pikir, ayah telah menemukan orang yang selama ini kau cari, bukan ayah ingin bertindak egois terhadapmu, tapi ayah telah membesarkanmu, telah bersamamu puluhan tahun lamanya, jadi ayah tahu betul apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu. Apa yang sebenarnya membuat kau begitu risau selama ini."
"ayah" hanya itu yang terucap lemah dari bibirnya
"maka dari itu, kami merencanakan ini semua, ayah yakin jika tidak seperti ini, kalian berdua tidak aklah an pernah bersatu. Terutama kau Tika, kau terlalu sering mengalah dan membohongi apa yang kau rasakan.Untuk itulah kami  merencanakan ini semua. ayah harap kau tidak marah, dan jujurlah dengan perasaanmu. Karena sekarang bukanlah ilusi lagi yang Dhani tawarkan untukmu, tapi kenyataan yang memang agama pun menganjurkanya. walaupun ayah tidak sepaham sepertimu tentang agama, tapi ayah tahu keinginanmu."
Sekarang aku tahu, makna air mataku yang terus mengalir ini. Aku bahagia dikeliling mereka yang begitu peduli denganku.

Aku menoleh ke arah Dhani dan kedua orang tuanya, seolah mempertanyakana apakah mereka juga terlibat dalam rencana in. Mereka menganguk dan tersenyum, walau keraguanku tak ku ucapkan lewat kata-kata, tapi mereka telah mengerti apa yang ingin aku tanyakan.

"Tika, untuk pertama dan terakhir dalam hidupku, kuucapka kepada wanita yang telah mengisi hatiku serta hari-hariku,maukah kau menjadi mempelai pengantin wanitaku?"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar