Rabu, 03 April 2013

Rasa yang pernah ada (8)

Lama Tika merenungi kebodohan yang telah Ia lakukan. Menangisi sesuatu yang memang bukan haknya. Bangkit dan memperbanyak berpikir positif, itulah yang seharunya ada dibenaknya. Bukan sebuah tangisan atau tetesan air mata, tapi kesadaran akan kesia-sian itulah hal yang penting.

Waktu pun terus berlanjut. Tibalah saatnya waktu resepsi pernikan Dhani.

Tika tak pernah menyesali jika dia harus datang. Dia harus memenangkan hatinya untuk tidak pengecut dan lari dari kenyataan. Dia tetap mencoba menyembunyikan semuanya, biarlah allah dan dirinyalah yang tahu tentang gejolak yang ia rasakan saat ini.

Pestanya tampak begitu meriah. Kesan sederhana tapi berkelas itulah yang ditangkap dimata Tika. Sebuah pernikahan yang dia impikan. Tapi sedikit ada kejanggalan yang mulai ia rasakan. Rasanya semua orang yang ada di sana meliriknya dan berbisik-bisik dengan teman sebelahnya.

Tika mulai ragu, apakah dia salah kostum, apakah pernikahan ini mempunyai seragam khussu. atau ada yang salah dari pakaian, terbalik, sobek atau apalah sehingga semua orang memperhatikannya, baik yang hanya saling lirik-lirikan atau langsung beneran melihat kearahnya dengan tatapn menyelidik.

"jangan-jangan wajah ku mirip teroris kalinya". pikir Tika.

Tika perlahan-lahan dengan langkah dibuat se-PD mungkin, mencari tempat duduk yang kosong. Tapi lagi-lagi dia merasa di perhatiakan terus, apalagi ternyata tidak ada bangku kosong yang daat dia duduki.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar